Berkata “Tidak” dan Pengakuan John Perkins.
By Irman N. at 19 January, 2008, 3:01 am
Beberapa teman mungkin melihat saya aneh dan terlalu naif nasionalis. Tapi saya sendiri melihat hal yang lebih aneh ketika mendengar Pak Amien Rais dan tokoh lainnya berteriak soal kekayaan alam kita yang dikeruk habis bangsa asing atasu segelintir elit ekonomi dan poilitik tanpa rakyat sekitar “kecipratan” rejeki itu, jangan ditanya rakyat di propinsi lain. Tapi tak pernah para pemimpin besar bangsa ini memberikan tanggapan, malah lebih ribut para pengamat yang menganggap orang seperti pak Amin sebagai tak realistis, atau malah makhluk planet asing yang tak realistis.
Saya selalu shok dan merenung alangkah bodohnya kita yang selalu silau dengan “orang bule”, “tenaga ahli asing”, “konsultan asing” yang ternyata “mereka itu bodoh dan (maaf) goblok” kata pak Kwik Kian Gie, yang hanya menghabiskan uang negara yang cicit kita harus bayar ke Bank Dunia. Ternyata mental warisan jaman kompeni ini harus dibayar mahal.
Perenungan saya dimulai ketika pak Amin Rais selalu berteriak tapi selalu banyak yang menentang dia sebagai anti globalisasi dsb dsb, dan puncaknya ketika muncul buku John Perkins “a confession of an economic hitman” yang menguncangkan rasa keadilan orang yang masih memilikinya. Disusul buku kedua “pengakuan bandit ekonomi” dari orang yang sama yang tidak menguncang tapi memantapkan dan memuaskan kepenasaran orang tentang kenapa negara kaya semakin kaya, dan negara miskin semakin miskin. Teori “kutukan sumber daya alam yang kaya” yang malah membuat suatu negara miskin ternyata bukan hasil “invinsible hand”, tapi dibuat sedemikian rupa oleh segelintir elit ekonomi dan politik global yang sebenarnya kasat mata tapi tak terjangkau. Tapi sayang sekali negara miskin tak pernah bisa cukup kuat untuk berkata “tidak”.
Menurut Perkins, negara kaya alam selalu dibuat sedemikian rupa supaya terbenam hutang, alam dijarah, lingkungan dirusak, rakyat dibuat bodoh, elit politik dibuat korup dan penindas bertopeng demokrasi, pujian akan selalu datang dari para pendukung elit tersebut. Sepertinya kita melihat dengan mata dan hati kita contoh terbesar di depan mat..yanh Indonesia ku ini. Dengan plot lihai, pemerintahnya tak pernah bisa berkata “tidak”. Yang berkata “tidak” berakhir di peti mati (Omar Torijos-presiden Panama) dengan terhormat. Yang berkata “iya” berakhir seperti Indonesia sekarang. Menurut kita mana yang terbaik? Di luar kontek ini, negara sebesar dan semakmur Jepang pernah dihebohkan dengan buku karangan seorang anggota parlemen supaya Jepang berani berkata “tidak” kepada Paman Sam. Negara Indonesia sepatutnya bisa berlaku:
1. berani berkata “tidak” kepada elit ekonomi dan politik yang bertujuan mengeruk harta titipan cucu kita. Negosiasi ulang semua proyek korup.
2. berani berkata “tidak” kepada para pendukung para elit itu yang selalu menerapkan persepsi bahwa investasi asing akan kabur kalau kita terlalu protektif dan negara kolaps. Sayang sekali protektif kepada perusahaan tambang asing, tapi tak mau proteksi kepentingan bangsa sendiri. Bertahun-tahun kita menghamba kepada IMF/Bank Dunia, sepuluh tahun pula kita tak bangkit dari krisis. China dan Malaysia memilih berjalan sendiri dan melompati negara yang dulunya setara. Orang berbondong-bondong ke Nigeria yang selalu perang atau Iran yang selalu diancam perang atau sanksi karena “pedagang tak mempunyai negara, mereka akan selalu ada di tempat yang basah uang” demikian kata seorang mantan presiden paman Sam. Orang tetap investasi di Cina sambil mengeluh sulitnya birokrasi, kejujuran mitra disana, pembajakan hak cipta, ancaman perang fisik dengan Taiwan, ancaman politik Amrik dsb dsb..tapi mereka tetap mencari tumpukan uang disana…apa yang salah? apa yang benar?
Salut kepada keberanian Perkins membuka aib dirinya dan negaranya, dan salut bahwa kita masih sangat kuat untuk menganggap bahwa orang dan lembaga seperti Perkins tak pernah ada, dan tetap takut diasingkan orang bule tapi tak takut dibenci dikutuk rakyat kecil. “Tuhan ada di rumah si miskin” demikian kata proklamator kita, Bung Karno.
Irman N. , kerja di swasta dan selalu ingin berkomentar soal kehidupan sehari-hari.
Semua Tulisan Irman N.
Blog:

No comments yet.