Makin Kokohnya Open Source LMS

Oleh Harry B. Santoso • 16th Jan, 2008 • Kategori: Harry B. Santoso, Kolom •Dilihat:465 views •Kirim:Email This Post Email This Post

Bingung. Itulah perasaan saya yang sempat hinggap ketika membuka situs WebCT. Ya, kini situs tersebut sudah dialihkan ke Blackboard. Kok bisa? Rupanya mereka merger.

Sebenarnya mergernya perusahaan kenamaan ini sudah terjadi sekitar 2 tahun yang lalu. Tepatnya 12 Oktober 2005. Salah satu keputusannya perusahaan akan menggunakan bendera Blackboard. Dampaknya perusahaan akan memiliki lebih dari 3.700 klien, memiliki sekitar 800 pegawai, dan 7 kantor yang tersebar baik di Amerika Serikat dan luar negeri. Tentunya data ini nampaknya sudah berubah berhubung saya menggunakan data lama dari press release merger.

Blackboard dan WebCT memang bukan perusahaan kemarin sore. Blackboard sendiri merupakan salah satu perusahaan terdepan dalam enterprise software dan layanan di industri bidang pendidikan. Produknya terdiri dari beberapa aplikasi software yang dikemas dalam dua suites: Blackboard Academic Suite dan Blackboard Commerce Suite. Selain memiliki kantor utama di Washington, Blackboard memiliki dengan kantor dan staff yang tersebar di Amerika Utara, Eropa, dan Asia (blackboard.com).

Sementara itu, WebCT memberikan lingkungan pembelajaran online yang sangat fleksibel. Banyak institusi pendidikan termasuk universitas di berbagai belahan dunia, baik dari komunitas maupun universitas skala besar menggunakan WebCT untuk memfasilitasi proses belajar mengajar.

Pertanyaan yang cukup menggelitik adalah apa yang menjadi motivasi sehingga dua perusahaan besar ini mengambil langkah besar pula untuk melakukan merger?Adakah faktor kompetisi yang sedemikian hebatnya saat ini? Boleh jadi ya!

Pada dasarnya merger akan menambah ’kekuatan’ bagi yang melakukannya. Tambahan sumber daya, tambahan klien, juga makin kencangnya realisasi riset. Tentunya ini secara tidak langsung menunjukkan pada kita bahwa tantangan di luar semakin keras. Salah satu tantangan yang sedemikian jelas adalah semakin menjamurnya pemain-pemain lain yang berada di jalur open source.

Tidak dapat dipungkiri penelitian di bidang e-Learning adalah penelitian lintas bidang. Penelitian inilah yang menjadi ujung tombak berkembangnya e-Learning. Bidang ilmu yang dominan adalah ilmu komputer, psikologi, serta pendidikan. Walaupun memang tidak menutup kemungkinan ikut sertanya bidang-bidang lain. Kini sudah tidak bisa lagi domain e-Learning diklaim milik bidang pendidikan saja. Begitu pula bidang-bidang yang lain.

Open Source vs Proprietary LMS

Secara umum dalam mempersiapkan sistem e-Learning dalam suatu organisasi, katakanlah institusi pendidikan, terdapat beberapa pilihan yang dapat kita ambil. Diantaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, mengembangkan sendiri. Dengan menjatuhkan pilihan pada pilihan ini, institusi perlu memiliki tim untuk pengembangan sistem. Disini benar-benar akan digunakan konsep manajemen proyek dimana alokasi sumber daya manusia (mulai dari manajer proyek, system analyst, business analyst, system architect, system developer, tester, hingga documentator), alokasi biaya dan waktu diatur sedemikian rupa sehingga requirements dapat dicapai sesuai target. Pilihan metodologi pengembangan dan teknologi yang akan digunakan merupakan ‘hak prerogratif’ tim pengembang dengan memperhatikan pertimbangan-pertimbangan yang ada.

Kedua, membeli sistem yang sudah ada. Salah satu hal yang bisa digunakan untuk menebak mengapa suatu organisasi membeli aplikasi perangkat lunak atau perangkat keras adalah tersedianya anggaran yang dimiliki serta berbagai pertimbangan seperti kemudahan, khususnya pendeknya waktu implementasi serta layanan pascaimplementasi. Namun yang perlu diperhatikan dari pilihan ini adalah seringkali fasilitas yang ada terlalu kompleks dari apa sebenarnya yang dibutuhkan organisasi yang bersangkutan.

Ketiga, menggunakan open source e-Learning system. Saat ini telah terdapat beberapa sistem e-Learning berbasis open source seperti Moodle, Dokeos, Sakai, Claroline, ATutor dan yang lainnya. Jelas, bagi organisasi yang akan memanfaatkan software ini tidak perlu membayar. Lisensi yang digunakan biasanya adalah GPL atau GNU. Effort yang perlu kita lakukan ketika memutuskan menggunakan sistem ini adalah, kita perlu mempelajari dokumentasi program, bahkan kalau perlu algoritma-algoritma yang digunakan. Tidak adanya layanan pascaimplementasi berarti menuntut penggunanya untuk terlibat aktif dalam milis-milis atau memperhatikan bug-bug yang mungkin ditemukan dibelakang hari.

Keempat, melakukan kustomisasi. Melakukan kustomisasi artinya memanfatkan kembali modul-modul yang tersedia, baik itu dikembangkan sendiri, dari software open source ataupun dengan cara membeli dengan tujuan untuk dapat dimodifikasi sesuai requirements yang dibutuhkan organisasi.

Dari keempat pilihan di atas, pilihan kedua dan ketigalah yang paling banyak diambil. Menjatuhkan pilihan pada yang pertama, sama artinya masih perlu mempertimbangkan landasan pengembangan, sumber daya yang akan dilibatkan, waktu, tak terkecuali biaya. Begitu pula pada pilihan keempat, walaupun disini skalanya lebih kecil.

Open Source: Tak kalah canggih

Rata-rata perusahaan besar yang tertarik mengimplementasikan e-Learning menggunakan proprietary LMS. Selain karena tersedianya dana yang cukup untuk investasi di bidang ini, vendor memberikan layanan maintenance yang sangat memuaskan. Apalagi fitur-fitur yang disediakan. Namun bukan berarti bahwa LMS berbasis open source kalah saingan. Tinjauan kelengkapan fitur hingga perbandingan fitur antar LMS bisa kita lihat di situs EduTools.

Konon Moodle, salah satu open source LMS, sudah di-download puluhan ribu kali di seluruh dunia. Beberapa LMS diantaranya bahkan ada yang di-download ratusan bahkan ribuan kali sehari. Bisa dibayangkan. Saat ini Moodle juga sudah memiliki pengguna teregister sebanyak ratusan ribu yang tersebar di 196 negara. Penggunaannya tidak hanya untuk keperluan pribadi, tetapi hingga universitas dengan jumlah siswa 200.000an! Tak hanya itu, sistem ini juga tidak dikembangkan ala kadarnya. Ada landasan teori maupun tinjauan pedagogi yang cukup kental. Selain Moodle, Anda bisa membandingkannya dengan open source LMS lain.

Di Indonesia sendiri, sudah banyak institusi pendidikan dan komunitas yang menggunakan opensource LMS. Selain gratis, implementasinya terhitung cepat. SMU 1 Muhammadiyah Yogyakarta adalah salah satu contoh bagaimana e-Learning sudah diimplementasikan di tingkat sekolah menengah berbekal open source LMS. Selain SMU 1 Muhammadiyah, pastinya ada sekolah-sekolah lain yang punya sistem semacamnya.

Model bisnis bagi yang bergerak di open source LMS pun bermacam-macam. Mulai penyedian layanan hosting, konsultasi, instalasi, integrasi dengan sistem lain yang sudah dimiliki institusi, melakukan kustomisasi fitur-fitur yang ada, pembuatan theme, pelatihan penggunaan secara umum, hingga sertifikasi. Sangat menggiurkan bukan?

Anda ingin menerapkan e-Learning di lingkungan institusi Anda? Pilihannya sudah di tangan, apakah akan menggunakan proprietary software atau cukup yang berbasis open source. Semuanya kembali pada tingkat kebutuhan kita tentunya.

Artikel Terkait:

Bookmark this article! [?]

BlinkbitsBlinkListsBlogLinesBlogmarksBuddymarksCiteULikeCo.mmentsDel.icio.usDiggDiigo

FarkFeed Me LinksFurlGoogleLinkagogoma.gnoliaNetvouzNewsvinePropellerRawsugar

RedditRojoSimpySphinnSpurlSquidooStumbleUponTailrankTechnoratiYahoo

Tagged as: , ,
Harry B. Santoso

Harry B. Santoso , staf akademik di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia. Sejak tahun 2003 telah aktif dalam berbagai kegiatan di bidang e-Learning seperti menulis untuk konferensi baik nasional maupun internasional, koordinator seminar e-Learning, serta memberikan tutorial untuk berbagai instansi tentang Learning Management System dan pengembangan e-Learning content. Saat ini aktif juga di Lab Digital Library & Distance Learning Fasilkom UI. Bidang penelitian yang diminati adalah distance & e-Learning, teknologi pembelajaran, kognitif & pembelajaran, serta personalisasi pembelajaran.
Email Penulis | Semua Tulisan Harry B. Santoso
Website: http://staff.blog.ui.edu/harrybs

Tanggapi artikel ini

Note: This post is over 7 months old. You may want to check later in this blog to see if there is new information relevant to your comment.