Cadangan minyak bumi Indonesia diketahui semakin menipis. Dengan pertambahan penduduk, pertumbuhan ekonomi, ditambah gaya hidup masyarakat yang belum lepas dari pengaruh “emas hitam” itu, cadangan tersisa di perut bumi diperkirakan tak akan cukup memenuhi kebutuhan domestik.
Bagaimana prospek Indonesia tanpa minyak? Jika dilihat secara optimistis, semestinya hal ini berpotensi menghasilkan kebaikan. Neraca minyak yang kritis bisa dijadikan modal reformasi kebijakan. Sedangkan lonjakan harga minyak sekarang, harus didorong untuk mengakselerasi langkah diversifikasi, konversi, dan konservasi energi.
Kisah Brazil yang tergantung impor minyak pada 1970-an, lalu sukses mengembangkan bioetanol dan konversi ke gas, merupakan contoh tak terbantahkan.
Begitupula, sedikit minyak seharusnya membuka peluang Indonesia lebih makmur. Banyak bukti, sumber daya alam bukanlah faktor kunci yang menentukan kinerja ekonomi. Episode pembangunan di negara-negara Asia Timur secara tegas menunjukkan hal itu.
Kenyataan Kini
Sayangnya, realitas justru menerbitkan pesimisme. Sodokan harga minyak, disikapi dengan kalem oleh pengambil kebijakan energi dan ekonomi. Sebabnya, bukan karena pengembangan energi alternatif atau konversi minyak tanah ke elpiji berhasil.
Tetapi, hal itu disebabkan paradigma Indonesia dalam mengeksploitasi alam sudah bergeser ke gas dan batu bara. Produksi gas, (Kompas, 27/10) kini sudah setara 1,5 juta barrel minyak, dan batu bara 2,5 juta barrel ekuivalen.
Tahun ini, Indonesia merayakan prestasi ekspor yang menembus 100 miliar dollar AS. Namun, rekor ini bukan ditunjang oleh peningkatan sektor ekonomi “kreatif” yang signifikan. Sekali lagi, kemajuan justru didongkrak harga komoditas alam yang melonjak di pasar internasional.
Di sinilah letak masalahnya. Ketergantungan negara pada hasil minyak, lalu digantikan gas dan batubara, berpotensi melanggengkan banyak distorsi. Uang yang gampang didapat, mengurangi insentif berinovasi dan bekerja. Dalam ungkapan sejarawan ekonomi David Landes: Easy money is bad for you. It represents short-run gain that will be paid for in immediate distortions and later regrets.
Pelajaran Berharga
Krisis minyak adalah problem lama dengan tantangan baru. Faktor sejarah dan lanskap ekonomi-politik membuat respon setiap negara berbeda. Di banyak negara, kepanikan tak begitu menonjol sebab sejak 1970-an konsumen sudah terbiasa dengan realitas minyak yang kian mahal. Di negara kita, selama tiga dekade realitas itu terdistorsi oleh subsidi.
Pemerintah pernah beradaptasi dengan harga minyak murah. Di puncak boom minyak tahun 1981, hasil migas merupakan tiga-perempat ekspor dan dua pertiga dari penerimaan negara. Setelah harga minyak turun dan penyesuaian berhasil, satu dekade kemudian andil migas turun kurang lebih setengahnya (Hill, 2002). Kini pemerintah menghadapi realitas baru, harga minyak tinggi di tengah produksi yang menurun.
Ibarat cerita sengsara membawa nikmat, hal sebaliknya terjadi pada Brazil. Tahun lalu, negara ini mendeklarasikan kemerdekaan energi (energy independence). Produksi minyaknya meningkat tajam hingga bisa mengurangi ketergantungan impor gas dari Bolivia. Sedangkan produksi dan konsumsi bioetanol berhasil direvitalisasi setelah tenggelam dihajar era minyak murah.
Pascaminyak
Entah berapa lama lagi Indonesia tanpa minyak akan jadi kenyataan. Yang jelas, ekspor dan impor kini sudah dalam jumlah ekuivalen. Karena itu, titik tanpa minyak akan ditentukan sejauh mana pertumbuhan ekonomi dan keberhasilan diversifikasi ke sumber energi lain dilakukan. Harga yang tinggi seperti sekarang, juga akan mempercepat deplesi minyak.
Kita masih menghadapi masalah pelik dalam hal penghematan energi. Penggunaan energi kita sangatlah boros dibanding negara-negara di kawasan (ADB, Key Indicators 2003). Karena itu, skenario optimistis bahwa ketiadaan minyak akan memaksakan paradigma baru pada masyarakat, bisa saja meleset. Sebabnya, karena minimnya insentif atau karena tidak adanya konsistensi kebijakan.
Jadi, bagaimana prospek Indonesia pascaminyak? Harapan terakhir tergantung pada visi dan kepemimpinan politik. Masalahnya, saat ini, menemukan hal itu bisa lebih sulit mengingat pasar perpolitikan Indonesia yang didominasi figur lama.
Catatan: Opini ini “nyaris” dimuat Kompas awal November 2007. Sayang, karena oleh penulis sudah dimasukkan di blog, tulisan ini tidak jadi ditayangkan. Pelajarannya, jangan sekali-sekali memasukkan tulisan yang dikirim ke media di blog, apalagi mengirimkan naskah yang sama ke koran yang berbeda.
[...] Beberapa Artikel tentang Minyak di Kolumnis.com Posted 26 Januari , 2008 Indonesia Tanpa Minyak [...]